Rekonsiliasi

Pada 1644, seorang mulia dari Timur, beralamat di sebuah kepulauan penghasil rempah-rempah, memesan bola dunia berdiameter 400 cm. Itu jadi pesanan bola dunia terbesar yang pernah dibuat di bengkel Joan Blaeu, seorang warga Belanda pembuat peta termasyhur di Eropa saat itu. Pesanan itu membuat gempar kalangan cendekia di Eropa. Orang mulia itu juga memesan benda-benda ganjil lain dari Eropa: lonceng, teropong buatan Galileo, dan sepasang unta jantan-betina. 

Orang mulia yang ganjil itu adalah seorang perdana menteri kerajaan Gowa-Tallo, dikenal luas sebagai Karaeng Pattingaloang. Catatan sejarah menyebut Karaeng Pattingalloang sebagai kolektor buku-buku Eropa, selalu membawa buku ke mana saja, mencintai dan secara otodidak menguasai matematika, astronomi, geografi, juga teologi. Karaeng Pattingalloang juga menguasai bahasa Portugis, Latin, Italia, Denmark, Arab, Melayu, dan kemampuan ini ia gunakan untuk melancarkan diplomasi dengan berbagai pihak di Asia Tenggara, dan dengan orang-orang Eropa. 

 

Kecintaan Karaeng Pattingalloang pada ilmu ia warisi dari ayahnya, Sultan Awalul Islam (ia raja Tallo pertama yang masuk Islam). Anthony Reid, dalam A History of South East Asia: Critical Crossroads (2015) menyebut Karaeng Pattingalloang seorang “Rennaissance Man”. Ia pun tampaknya teguh memeluk agama, menurut Denys Lombard dalam Nusa Jawa: Batas-Batas Pembaratan (1996). Pada 1662, Blaeu menerbitkan kitab mahakarya kartografi, Atlas Maior. Di bagian peta dunia, Blaeu menggambar wajah Karaeng Pattingaloang, sebagai penghormatan pada orang mulia dari Timur yang wafat pada 1654 itu. 

 

Kepaduan cinta ilmu, keteguhan beragama, keterbukaan pada manusia dari segala penjuru dunia juga tampak pada putera Makassar lain yang lahir di abad ke-20: BJ Habibie. Ia yang begitu dihormati di Jerman dan dunia penerbangan karena mencipta formula “Crack” yang aplikasinya diterapkan hingga kini untuk mengamankan pesawat-pesawat yang kita gunakan, sewaktu muda sering shalat (sesuai ajaran Islam, tentu) di sebuah gereja di Jerman (karena tak ada masjid ia jumpai, dan suasana gereja syahdu menambah khusyuk shalatnya). 

 

Karaeng Pattingaloang dan Habibie wafat membawa perdamaian, penghidupan bersama, antara ilmu dan agama, matematika dan cinta, di dalam diri mereka. Mereka menjalani sehari-hari asas rekonsiliasi pengetahuan dan iman, yang diistilahkan oleh Stephen Jay-Gould dalam esai di majalah Natural History (1994) sebagai NOMA, Non-overlapping Magestaria. Asas ini mengakui otoritas agama untuk permasalahan nilai, dan otoritas sains untuk permasalahan fakta. Keduanya bahkan tak perlu hidup terpisah agar tak saling mencampuri. Karaeng Pattingalloang dan Habibie membuktikan itu, seperti juga Newton (pelopor fisika dan penganut Kristen yang taat), Abdul Salam (Nobel Fisika 1979), dan Azis Sancar (Nobel Kimia, 2015).

 

Sementara, dunia yang kita hidupi sekarang seperti semakin sukar mendamaikan iman dan ilmu. Agama menjadi hanya wilayah emosional, nalar rasional dianggap di luar (malah mengancam) agama. Fakta sukar dipercaya, dunia konon telah jadi semesta pasca-kebenaran (“post-truth”). Media dan media sosial kini jadi ajang pengerasan konflik horisontal. 

 

Film punya potensi jadi jembatan dalam sengkarut itu. Film bisa jadi media bagi percakapan gagasan-gagasan. Dunia-dunia para tokoh yang hidup di layar bisa dihadirkan dalam keberbagaiannya, sekaligus dihadirkan dalam sebuah bingkai yang akan dilihat oleh banyak mata penonton. Di dalam bingkai kamera, disorotkan ke layar, iman dan ilmu bisa didialogkan. Bioskop gelap, cahaya proyektor menyorot ke sebuah bidang putih, lalu sebuah dunia pun hidup. Dalam gelap, apakah kita mendengar bisikan ruh Karaeng Pattingaloang dan Habibie, tentang upaya mendamaikan segala yang berbeda dan bertentangan di luar sana?

Festival Film Internasional Madani mengangkat tema “Reconcile” karena percaya bahwa yang berbeda dan saling menentang itu bisa hidup dalam sebuah bingkai damai dan hidup bersama.

 

 

Hikmat Darmawan

Board of Festival