Keindahan Madani: Tak Henti Perbedaan

Rekonsiliasi adalah tentang peta jalan madani, yakni persaudaraan dalam proses tidak henti menafsir perbedaan untuk menumbuhkan masyarakat sipil yang terbuka, sehat, produktif dan kritis.

 

Film dalam sejarahnya disebut “Gambar Hidoep “. Film adalah peta hidup menafsir perbedaan  dalam persaudaraan, sangat terasa ketika penonton duduk bersama menonton film dan kemudian mendiskusikannya. 

 

Sebuah film adalah gabungan kompleks pernyataan dan perasaan individu sutradara, baik menggambarkan kenyataan masyarakat, menggugat, katarsis ataupun bermain-main dengan aspek kehidupan serta menafsirkannya dalam beragam cara tutur.

 

Film-film yang ditayangkan di Madani Film Festival menjadi peta beragam ekpresi membaca masyarakat beragam dunia terkait tantangan mewujudkan masyarakat Madani. Terlebih kini, Indonesia memasuki era revolusi industri 4.0, Era post truth dan era politik identitas, ketika perbedaan menjadi hitam putih dan menjadi radikalisme publik. Terlebih juga, kini era hiburan yang banal disertai politik massa dalam politik yang banal. Sementara lewat smart phone segalanya di tangan warga. Warga yang tumbuh dalam euforia kebebasan, namun tanpa budaya baca yang kuat dan etika demokrasi serta etika privat dan publik yang kokoh. Segala perbedaan menjadi hitam putih, penuh radikalisasi pembelaan dan pembelahan.

  

Lewat film-film Madani yang beragam, maka jalan tafsir perbedaan sebagai muara keindahan masyarakat sipil adalah sebuah usaha tak henti. Saatnya merayakan masyarakat madani lewat film-film yang membaca dilemma menuju masyarakat madani dengan beragam cara pandang.

 

Garin Nugroho

Festival Board, Madani Film Festival