Muslim Amerika: Mimpi Menjadi Umat yang Satu?

Di Amerika Serikat, sensus penduduk tidak memasukkan agama sebagai data yang dicari. Oleh karena itu, tidak ada angka factual berapa jumlah penganut agama tertentu, termasuk Islam. Akan tetapi, menurut penelitian yang dilakukan oleh Pew Research Center tahun 2017 lalu, jumlah Muslim di Amerika Serikat sekitar 3,45 juta orang, atau 1,1 persen dari total populasi. Diperkirakan pada tahun 2040, Muslim Amerika akan menjadi kelompok agama kedua terbesar—menggeser Yahudi—setelah Kristen. Meski makin beratnya kendala yang mereka hadapi—utamanya meningkatnya kecenderungan Islamofobia—penelitian Pew Research Center menunjukkan bahwa 89% menyatakan bahhwa mereka bangga menjadi warga Amerika dan sekaligus menjadi Muslim. Delapan puluh persen mengatakan mereka puas dengan keadaan kehidupan mereka, dan 70% percaya pada “American dream” yang dipandu prinsip bahwa siapa pun yang bekerja keras akan mendapatkan kesuksesan.

Sementara itu, menurut penelitian Dalia Mogahed dan Youssef Chouhoud (2017) dari Institute for Social Policy and Understanding, Muslim Amerika terdiri dari golongan etnis yang  paling beragam di antara kelompok masyarakat beragama. Muslim Amerika adalah satu-satunya komunitas beragama yang tidak memiliki ras mayoritas: 25% berkulit hitam, 24% berkulit putih, 18% Asia, 18% Arab, 5% Hispanik, dan 7% ras campuran. Separuh dari Muslim Amerika lahir di Amerika, dan separuhnya lagi lahir di luar Amerika.

Dengan beragamnya etnisitas yang berasal dari seluruh dunia itu, yang kemudian hidup di satu negara, maka Muslim Amerika berpeluang menjadi contoh mewujudkan ummatan wahidah, umat yang satu—sebuah prinsip yang disebutkan dalam Al-Quran. Konsekuensi dari umat yang satu disebutkan dalam sebuah hadis, yang meyatakan bahwa orang beriman bagaikan satu tubuh: jikalau satu bagian sakit, maka sakit seluruh tubuh itu.

Untuk menjadi ‘umat yang satu’, perlu terbentuknya, kurang lebih, identitas sosial Muslim Amerika yang cukup solid. Tapi, justru di situlah, menurut hemat saya, tantangan terbesar Muslim Amerika—paling tidak untuk saat ini. Menjadi imigran dan tercerabut dari budaya asal, daya tarik merayakan identitas budaya asal lebih kuat dan lebih memenuhi hasrat “kembali dari keterasingan”, ketimbang bersama-sama membentuk “budaya baru”. Salah satu contoh yang menarik adalah pembentukan masjid-masjid, terutama di kota besar seperti New York City. Banyak masjid yang didirikan oleh komunitas etnis tertentu, berasal dari negara asal tertentu, bahkan berasal dari provinsi tertentu di negara asal. Di daerah Queens, New York City, misalnya, bisa ditemukan beberapa “masjid etnis” yang tidak begitu jauh satu sama lain.

  Seiring dengan berjalannya waktu, bukan tidak mungkin, koherensi identitas Muslim Amerika makin mengental. Justru karena tantangan seperti menguatnya Islamofobia adalah blessing in disguise karena menyediakan jalan untuk perasaan senasib-sepenanggungan yang pada gilirannya memperkuat identitas bersama. Karena diliyankan begitu rupa oleh sentimen Islamofobia yang mengandaikan Muslim dan Islam yang monolitik, bukan tidak mungkin identitas liyan itu justru malah menjadi mengental.   Bukankah, menurut Stuart Hall (1992: 287), “identity arises not so much from the fullness of identity which is already inside us as individuals, but from lack of wholeness which is filled from outside us, by the ways we imagine ourselves to be seen by others.”

Tentu upaya mewujudkan umat yang satu bukannya tidak dilakukan. Organisasi-organisasi seperti Islamic Society of North America (ISNA), Islamic Council of North America (ICNA) dan lain-lain tentu menyelenggrakan program dan acara keislaman yang lintas etnis. Begitu pula tokoh-tokoh masyarakat Muslim di Amerika Serikat. Tampilnya individu-individu Muslim di ruang publik di pelbagai sisi juga menyumbang representasi identitas Muslim Amerika. Misalnya di jagad politik Amerika ada sosok seperti Keith Ellison dan Ilhan Omar. Di dunia olah raga, atlet anggar berjilbab Ibtihaj Muhammad adalah sedikit dari contoh. Sektor budaya popular pun juga memunculkan sosok-sosok Muslim, mulai dari music (Mona Hayder, Native Deen dan lain-lain), hingga komedian stand up (Hasan Minaj, Aasif Mandvi, dan lain-lain), pemain film (Mahershala Ali, dan lain-lain),  dan sineas (Minhal Baiq, Lena Khan, dan lain-lain). 

Perlu ditekankan bahwa jika ada identitas sosial Muslim Amerika yang solid, bukan berarti identitas itu akan menjadi satu-satunya identitas setiap Muslim Amerika. Pandangan anti-esensialisme tentang identitas menegaskan bahwa seseorang justru tidak dapat memiliki satu identitas. Sebaliknya, seseorang membawa beberapa identitas (berdasarkan jenis kelamin, usia, ras, etnis, bangsa, agama, dan lain-lain) yang akan muncul menanggapi stimulus eksternal yang berinteraksi denga seseorang itu. Dalam pengertian ini, setiap orang dapat bergerak di antara identitas sesuai dengan wacana dan percakapan dengan konteks pada waktu itu. Identitas tetap terbuka dan cair. 

 

Putut Widjanarko, Festival Board, Madani Film Festival

Menyelesaikan program doktor di Ohio Universuty, tentang masyarakat Muslim Indonesia di New York City, Amerika Serikat.