Lebih Tak Berceramah, Lebih Baik: Film Islam sebagai Teologi Diam

ISTILAH “teologi diam” saya kutip dari ahli Islam Amerika Serikat, Oludamini Ogunnaike. Bagi Ogunnaike, seni sebenarnya adalah cara mengetahui Tuhan: bukan dengan wacana atau ceramah-ceramah, melainkan dengan merasakan tanda-tanda-Nya melalui keindahan yang mengambil bentuk ciptaan-ciptaan-Nya. 

 

Kata Titus Burckhardt: “…sebagaimana suatu forma mental, yakni dogma atau doktrin, bisa menjadi refleksi memadai—meski terbatas—akan Kebenaran Ilahiah, demikian juga bentuk indrawi dapat melacak kembali suatu kebenaran atau realitas yang melampaui, baik forma indrawi maupun dataran pemikiran.” Dalam mistisisme Islam, memang segala ciptaan Tuhan disebut sebagai tajalliyat (pancaran/manifestasi/teofani) Penciptanya.

 

Dalam Al Quran, Dia sendiri menyebut ciptaan-ciptaan-Nya sebagai tanda-tanda Diri-Nya. “Akan kami tunjukkan tanda-tanda Kami di horison (alam semesta) dan pada diri mereka (manusia) sehingga jelas bagi mereka bahwa Dialah Sang Kebenaran.” (Al Quran, Surat Fush-Shilat, ayat 53).

 

Labih dari itu, seperti diungkap dalam salah satu hadis: “Allah itu indah dan mencintai keindahan.” Maka Dia pun “…membubuhkan keindahan (ihsan) kepada segala (ciptakan-Nya).” Oleh karena itu, seperti dikatakan oleh Plato: “Keindahan adalah pancaran Kebenaran (dengan K besar).”

 

Maka, seperti dikatakan Ogunnaike, dia lebih suka mengajak non-Muslim yang ingin mengetahui Islam bukan dengan menyuruhnya baca buku ini-itu, atau mendengarkan ceramah ini-itu, melainkan dengan mengajaknya menikmati karya-karya seni Islam; membuatnya mendengarkan keindahan tilawah Al Quran, membawanya melihat keindahan Masjid Syaikh Lutfullah di Iran, atau membaca puisi-puisi Rumi, Ibnul Faridh, dan sebagainya. 

 

Ogunnaike memang tak menyebut film. Tapi, tak pelak, film adalah wahana pengungkapan keindahan juga. Apalagi film-film yang dibuat dengan menonjolkan aspek seni, baik seni peran—yang menggambarkan kerumitan manusia—seni fotografi, maupun seni bercerita. Tanpa harus nyinyir pada kandungan verbal sebuah film—karena jika digarap dengan artistik, bahkan dialog verbal bisa menjadi karya seni—maka film yang dibuat dengan kepercayaan pada kekuatan seni dan keindahan sesungguhnya adalah suatu film dakwah. 

 

Poin yang ingin saya sampaikan di sini adalah, tak harus sebuah film dakwah didefinisikan sebagai film yang secara verbal mengajarkan dogma-dogma atau doktrin-doktrin ajaran Islam. Apalagi sampai menjadi nyinyir. Kenyinyiran verbal justru bisa menjadikannya banal, kehilangan keindahan dan, karena itu, justru kehilangan sifat dakwahnya yang paling penting. Apalagi udara di sekitar kita sudah terlalu penuh-sesak dengan ceramah dan wacana verbal keagamaan model begini. 

 

Buku Ekky Imanjaya ini, salah seorang di antara tak banyak ahli tentang perfilman, dan pengamat tekun apa yang disebut sebagai film-film dakwah atau film-film Islam, ini merupakan uraian yang amat baik dan mencerahkan tentang industri film dakwah dan, yang lebih penting lagi, tentang apa yang harus diupayakan agar sebuah film dapat disebut sebagai film dakwah atau film Islam. Film yang paling baik untuk mencapai sasaran penebaran kebaikan bagi para penikmatnya. Dan, untuk ini, kita perlu menyampaikan terima kasih dan selamat untuk Ekky atas karya pentingnya ini.



Dr. Haidar Bagir

(Intelektual Muslim).

 

(Tulisan ini adalah kata pengantar untuk buku Mencari Film Madani: Sinema dan Dunia Islam [Ekky Imanjaya, 2019]. Buku ini adalah salah satu dari produk “Seri Wacana Sinema” Komite Film Dewan Kesenian Jakarta)