Film Dakwah Dalam Batasan Orde Baru

 

Film-film Rhoma Irama, khususnya pada periode 1970-an hingga 1990-an, jadi titik berangkat pembahasan tema diskusi ini. Film-film ini mengklaim dan membingkai diri sebagai film dakwah. Realitas politik pada saat film-film itu muncul dan dikonsumsi publik adalah sebuah realitas hubungan Negara dan warga muslim yang ambigu (mendua). Ada banyak batasan ekspresi politik bagi umat Islam di luar ekspresi-ekspresi politik yang direstui oleh rezim Orba. Jalur yang tersedia adalah jalur kultural. Rhoma Irama ada di jalur itu, lewat musik dan film, berdakwah dan juga bersikap politik. Sosok ini menjadi ekspresi budaya/seni yang menyempal, sambil pada saat yang sama juga amat popular. Film Dakwah dengan gagasan dan tawaran menyempal dari Rhoma Irama ini jadi menarik ketika dikaitkan dengan perkembangan situasi “Islam Kultural” di masa Pasca-Reformasi ini. Apakah pendekatan Islam kultural, dakwah melalui budaya popular (musik dan film), mengalami dinamika lebih lanjut ketika rezim Orba dengan segala batasan dan bingkai ideologisnya telah runtuh dan kini dunia budaya dan politik pasca-Reformasi telah berubah?

SABTU, 21 NOVEMBER 2020 19.00-21.00 (WIB)

Live di YouTube Madani Film Festival dan Kwikku.Com

 

Pemateri:

Andrew N. Weintraub, Eric Sasono, Quirine van Heeren dan Hikmat Darmawan (moderator)

Andrew N. Weintraub

Eric Sasono

Quirine van Heeren 

Belajar dari Sinema Iran 

(What Can We Learn from Iranian Cinema)

 

Diskusi bertajuk “Belajar dari Sinema Iran” akan digelar untuk membahas sinema Iran secara menyeluruh dan mendalam. Afifah Ahmad (aktivis Gusdurian Teheran, penulis buku “Road to Persia”) akan memberikan semacam laporan pandangan mata seorang “insider” tentang bagaimana film-film tersebut diterima dan dirayakan di Teheran dan kota-kota lainnya di penjuru Iran. Bastian Zulyeno PhD (pakar kajian Persia dan dosen  FIB UI) akan membahas dari konteks budaya Persia, untuk mendalami pernyataan Jafar Panahi yang pernah menyatakan dalam sebuah wawancara dengan Ekky Imanjaya saat jadi tamu JIFFEST 2001, “Film Iran maju karena masyarakatnya familiar dengan karya sastra dan filsafat”.  Diskusi akan dipandu oleh Ekky Imanjaya, anggota dewan Festival Film Madani, dosen jurusan Film Binus University, dan penulis buku “Layar Persia: Panorama Sinema Iran”.

JUMAT, 27 NOVEMBER 2020

Live di YouTube Madani Film Festival dan Kwikku.com

19.00-21.00 Diskusi “Belajar dari Sinema Iran” bersama Afifah Ahmad, Bastian Zulyeno, dan Ekky Imanjaya (moderator)

Diskusi “Membaca Ulang Politik Identitas dalam Film”
 

Dalam dokumenter pendeknya dari 2014, Gaddafi, Kong Rithdee menuturkan kisah kecil tentang seorang remaja dan ayahnya menghadapi sepotong nama yang tidak umum, sembari merekam fenomena yang hingga kini masih hangat: politik identitas dan penguasa-penguasa yang main mata dengan kediktatoran. Gaddafi sendiri muncul di era ketika diktator generasi lama bertumbangan. Namun kini dunia menyaksikan sebuah era baru berisi calon-calon diktator beserta pengikutnya yang terbius, bersamaan dengan merebaknya politik identitas, yang tidak mengecualikan agama. Mari berbincang santai bersama Kong Rithdee dan Krisnadi Yuliawan mengenai situasi terkini politik identitas dan kekuasaan otoriter di Thailand dan Indonesia, sembari mengintip situasi masyarakat Muslim di kedua negara, di tengah iklim ini. Mari jaga kewarasan bersama.   

RABU, 2 DESEMBER 2020

Zoom & YouTube Madani Film Festival

19.00-21.00 Diskusi “Membaca Ulang Politik Identitas dalam Film” bersama Kong Rithdee, Krisnadi Yuliawan dan Ifan Ismail (moderator).

Peluncuran Buku “Memburu Muhammad”

 

SELASA, 24 NOVEMBER 2020

Zoom & YouTube Madani Film Festival

19.00-21.00 Peluncuran Buku “Memburu Muhammad” bersama Feby Indirani, Salman Faridi, Ulil Abshar Abdala dan Lia Kusumawardani (moderator).

Peluncuran Buku “Memoar Garin Nugroho”

 

RABU, 25 NOVEMBER 2020

Zoom & YouTube Madani Film Festival

19.00-21.00 Peluncuran Buku “Memoar Garin Nugroho: Era Emas Film Indonesia” bersama Garin Nugroho, Hikmat Darmawan, Putri Ayudya, Gietty Tambunan (moderator)

Diskusi “Relaksasi Beragama”

 

KAMIS, 26 NOVEMBER 2020

Zoom & YouTube Madani Film Festival

19.00-21.00 Diskusi “Relaksasi Beragama” bersama Feby Indirani, Inaya Wulandari Wahid, Riyana Rizki Yuliatin.

Diskusi Buku “Gender and Islam in Indonesian Cinema

 

Buku pertama dari jenisnya, “Gender and Islam in Indonesian Cinema” karya Alicia Izharuddin menyajikan gambaran yang menarik tentang bagaimana film dibuat dengan cara ‘Islami’. Melalui film-film Islami, ia bercerita tentang sebuah bangsa yang mengalami krisis politik, budaya, dan spiritual serta upayanya untuk bangkit sebagai pemain kunci di dunia Muslim. Gender adalah komponen sentral dalam film-film Islami dalam kemampuannya membuat Islam lebih terlihat dan sebagai ruang pemberdayaan perempuan.

SELASA, 1 DESEMBER 2020

Live YouTube Madani Film Festival dan Kwikku.com

19.00-21.00 Diskusi Buku “Gender and Islam in Indonesian Cinema” bersama Alicia Izharuddin dan Ekky Imanjaya

 

Alicia Izharuddin berafiliasi dengan program  Women’s Studies in Religion di Harvard Divinity School dan sebelumnya menjadi Dosen Senior di Gender Studies di Universitas Malaya. Dia tertarik pada gender dan Islam di Asia Tenggara dan memiliki banyak publikasi tentang topik tersebut. “Gender and Islam in Indonesian Cinema” adalah buku pertamanya.